
Mario Varga Llosa & Gabriel Garcia Marques
Sebelum Mario meraih Nobel tahun ini, posisi “perseteruan” keduanyatak seimbang karena Gabriel adalah peraih Nobel. Sekarang posisinya sama karena sama-sama peraih Nobel sastra.
Ya, itu bumbu masa lalu yang cukup menggelitik. Meskipun kurang nyaman menyimak masa lalu keduanya yang buram itu, adu jotos tersebut bak cerita novel, bidang yang ditekuni keduanya yang membuat mereka meraih Nobel.

Mario Vargas Llosa
Mario Vargas lahir di Peru beberapa bulan setelah kedua orangtuanya bercerai. Ia tak mengenal ayahnya sejak lahir. Pada masa anak-anak, Mario yang dibesarkan keluarga ibunya selalu mendapat penjelasan kalau ayahnya sudah meninggal yang tak disebutkan penyebab meninggalnya. Namun tahun 1946 ketika usianya 10 tahun, ia bertemu untuk pertama kalinya dengan ayahnya. Menariknya, ayah dan ibunya kembali menyatu setelah pertemuan itu.
Dunia tulis-menulis dimulainya ketika ia menjadi wartawan pada koran lokal di Peru ketika masih sekolah. Semasa kuliah kegiatan menjadi wartawan masih terus dilakoninya. Sambil begitu ia rajin menulis cerpen. Novel pertamanya ia buat pada tahun 1959. Hingga tahun 2010 Mario sudah menerbitkan 18 novel.
Selain novel ia juga menulis naskah drama dan buku. Seperti juga para sastrawan Amerika Latin lain yang populer seperti Garcia, Mario juga aktif di dunia politik. “Menulis buku itu bisnis yang sangat sunyi. Kita benar-benar terpisah dari dunia karena tenggelam dalam obsesi dan memori,” ujarnya. Ternyata bisnis yang sepi itulah yang mengantarkannya kini menjadi salah satu pemenang Nobel tahun 2010.
Penulis : Tim AndrieWongso








hai kawan, hmm artikelnya bagus, tetapi kok gak disebutkan kenapa mereka berdua sampai terlibat adu jotos?? ini sungguh membuatku penasaran..:D