Karir:
2004-Present
President Director
PT Indofood Sukses Makmur Tbk
2003-Present
Non-Executive Chairman and Chairman of Nomination Committee
First Pacific Company Ltd.
2003-2009
Former Non-executive Director
Elders Limited
Member of International Advisory Board
Allianz SE
President Commissioner
Fastfood Indonesia PT
Former President Commissioner
PT Indomobil Sukses Internasional Tbk
President Director and Member of the Board of the Directors
PT Indofood CBP Sukses Makmur
Ayahnya sempat Menjadi Orang Terkaya di Asia Tenggara
Anthony Salim alias Liem Hong Sien, CEO Group Salim (generasi kedua) terpilih sebagai salah seorang 10 Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Warta Ekonomi. Dia dinilai berhasil membangun kembali kerajaan bisnis Salim Group, setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998.Sebelum krisis moneter dan ekonomi 1998, Group Salim merupakan Konglomerat terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 milyar (sekitar Rp 100 trilyun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Sudomo Salim / Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai Orang Terkaya di Asia Tenggara.
Melepas BCA , Indomobil dan Indocement
Bank Central Asia / BCA mengalami rush (Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka) pada saat krisis finanlsial asia 1998 itu. Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. .
Untuk mengatasinya, BCA terpaksa Dimasukan ke “Rumah Sakit” (Masuk Pengawasan BPPN / Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dan terpaksa menggunakan BLBI dan akibatnya berutang Rp 52 trilyun. Anthony yang sudah dipercayakan memegang kendali perusahaan menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong) ini pun bertanggung jawab.
Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000.
Selanjutnya, BCA mengambil langkah besar dengan menjadi perusahaan publik. Penawaran Saham Perdana berlangsung di tahun 2000, dengan menjual saham sebesar 22,55% yang berasal dari divestasi BPPN. Setelah Penawaran Saham Perdana itu, BPPN masih menguasai 70,30% dari seluruh saham BCA. Penawaran saham ke dua dilaksanakan di bulan Juni dan Juli 2001, dengan BPPN mendivestasikan 10% lagi dari saham miliknya di BCA.
Akhirnya Antony Salim dapat melunasi seluruh utangnya, walaupun harus terpaksa melepas beberapa perusahaan.Perusahaan Group Salim yang dilepas adalah:
1. PT Indocement Tunggal Perkasa (56 % Saham nya dikuasai Perusahaan Jerman , Heidelberg Cement AG)
2. PT Bank Central Asia Tbk (51 % Sahamnya Dibeli Michael Bambang & Robert Budi Hartono, CEO Grup Djarum) dan
3. PT Indomobil Sukses Internasional.
Namun, dia tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di antaranya PT Indofood Sukses Makmur Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan Salah satu produsen Mi instan dan terigu terbesar di Asia.
Kesuksesan Indofood Merambah Pasar International
Selain itu juga berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, di antaranya di Hong Kong, Thailand, Filipina, Cina dan India. Salah satu upayanya mendongkrak penjualan mi instan produknya, dia menggandeng Nestle SA. Langkah ini dipercaya bisa mendongkrak nilai tambah Indofood, andalannya. Putra taipan Liem Sioe Liong ini tak mau kerajaan bisnisnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk., berhenti berekspansi dan berinovasi. “Setiap perusahaan harus berbenah diri, apalagi dalam iklim kompetisi,” kata Anthony. Untuk mendukung rencananya itu, Anthony pun menggandeng Nestle S.A.
Keduanya sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle. Deal bisnis antara dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada pendirian PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus PMA ini menyedot dana Rp50 miliar, dengan masing-masing pihak menyetor 50%.
“Pendirian usaha patungan baru ini akan menciptakan peluang untuk memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan,” kata Anthony. Ia percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham. Perusahaan tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan distribusi produk kuliner. Mulai April 2005 lalu, pada botol kecap merek Piring Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan patungan tersebut. Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi penggunaan merek produk kuliner kepada Nestle-Indofood. Indofood sendiri memiliki kekuatan pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang luas, dan kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu penyedap makanan.
Sementara itu, Nestle bergerak di bidang produksi dan penjualan berbagai produk makanan dan minuman, termasuk mi instan dan bumbu penyedap makanan di seluruh dunia. Kekuatan perusahaan asal Swiss itu ada pada riset dan pengembangan yang kuat dalam memproduksi makanan dan nutrisi.
Anthony melihat bahwa perusahaan yang dipimpinnya adalah kapal yang besar dengan 50.000 karyawan. Harus ada komunikasi yang baik agar kinerja perusahaan dapat terfokus tajam dalam melihat pasar. Kata Anthony, sebenarnya aktivitas bisnis yang dilakukan selama ini banyak, hanya saja tidak terlihat. “Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang tinggi dalam bisnis,” ungkapnya.








